Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki
Nama : Lutfi Anis Syafa'ati
Nim : 175200060
Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki
Kisah Sulastri dan Empat Lelaki mengenah dihati pembaca. Gaya bahasa yang dipakai sederhana dengan istilah-istilah yang sering didengarkan oleh khalayak ramai. Sementara itu, perjalanan Sulastri terkesan seperti masa lampau. Ketika zaman nabi Musa AS, saat berpijak dengan keteguhan bahwa masih ada penolong yang menjadi pegangan. Dengan begitu, Sulastri meminta setulus hatinya agar ditolong dari kekejaman Firaun pada kisah tersebut, yang ingin memerbudak Sulastri dengan paksa dan perintahnya. Tidak luput dengan campur tangan polisi dan perantara yang memang sudah berdiskusi di balik layar dengan memerjual belikan manusia dengan embel-embel pulang ke tanah air tercinta. Nyatanya uang seribu real itu dipergunakan untuk menyuap polisi dan masuk ke kantong perantara sebagai uang tranportasi dan uang makan. Sementara Sulastri juga tidak memunyai uang tersebut. Suaminya, Markam seorang yang suka bertapa di dekat makam sungai Bengawan Solo yang diyakini akan membawa berkah. Tetapi ketika Markam pulang selalu dengan tangan hampa. Anak dan istrinya ditelantarkan dengan kesia-siaan waktu yang dipergunakan bertapa. Sungguh malang sekali nasib Sulastri. Sudah jatuh, tertimpa pohon.
Dalam kisah tersebut dapat dilibatkan dalam teori Glock dan Stark. Dikaji dalam kutipan: “Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah. Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”
Kutipan tersebut menjelaskan tentang apa yang sudah dialami oleh Sulastri, dengan memerhatikan dimensi pengalaman. Ketika Markam bertapa, Sulastri mencoba untuk menghidupi dirinya dengan anaknya tanpa disebutkan hal apa yang dilakukan oleh Sulastri. Dengan begitu, Sulastri sedikit banyak melibatkan rasa dalam religiusitasnya dengan mencari dan mengalami.
Namun pada akhirnya Sulastri dapat menjauh dari polisi tersebut. Kemudian saat Sulastri berdiri diposis awal ia mengingat masalalunya dengan sang Suami yaitu Markam. Suami tersebut telah menelantarkanya dan anak-anaknya. Tidak memberi nafkah lahir dan batin. Markam lebih memilih untuk bertapa di ujung bengawan solo untuk mendapatkan pusaka. Sebuah kegiatan yang bersifat sepiritual namun kurang bijak dilakukan dalam posisinya saat itu yang masih mempunyai tanggung jawab pada keluarga. Disaat bayang-bayang tentang suaminya memudar Sulastri kaget melihat sosok laki-laki yang ia sebut dengan Firaun. Dengan badan dempal, otot-otonya yang kuat, dan perkasa, seakan-akan semua adalah dalam cengkramannya. Sulastri begitu ketakutan lalu bertriak namun tidak digubris. Sulastri takut lalu berlari dan Firaun pun mengejarnya. Ditengah pengejaran tersebut mencul laki-laki dengan baju puith, berjenggot, dang dengan tongkat. Ialah Musa, kemudian Sulatri mencoba meminta tolong kepadanya. Namun, musa memberikan isyarat tidak bisa dan sosok Musa hilang.
Kemudian Sulastri terntangkap oleh Firaun. Rambutnya ditarik hingga jebol. Tubuhnya pun lemah kehilangan kesadaran. Tiba-tiba muncul sosok Musa dengan tongkatnya. Sulastri seolah-olah mendapat kekuatan. Lalu diberikanlah tongkat Musa kepadanya. Tongkat pun di pukulkan kepada Firaun dan ia hancur berkeping-keping. Kemudian Sulastri tersadar, ia tebangun dari tidur dan mendapati dirinya di bibir pantai laut merah. Tongkat yang tadi digengamnya pun tidak ada. Ia kaget, apakah kejadian yang dialaminya tadi hanya mimpi.
Sungguh cerita yang menarik bukan. Nah, ketika membacanya sendiri ada lima hal yang menarik yaitu Sulastri, Polisi, dan Markam, Firaun, Musa. Bisa dikatakan kelima hal tersebut sendiri adalah sembuah makna simbolik yang disembunyikan oleh pengarang cerpen. Baiklah mari kita uraikan dari beberapa sudut pandang. Sudut pandang sebagai pembaca perempuan. Ketika membaca cerpen tersebut dengan sudut pandang perempuan pastilah kita akan menemukan suatu bentuk ketidakadilan yang dialami perempuan. seperti pada saat Sulastri mengingat pernikahannya dengan suaminya yaitu Markam. Suatu perkawinan yang jauh dari kata bahagia. Markam seorang suami yang mencampakan istrinya, ia tidak memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami yang baik. Markam lebih memilih untuk pergi bertapa dan berharap dalam pertapaannya mendapatkan pusaka. Bisa dirasakan bukan, bahwa dalam pernikahan seorang perempuan akan merasa tertekan dan tidak bebas. Seperti yang dikatakan oleh seorang perempuan asal Perancis Simone de Beauvoir yang mengatakan bahwa pernikahan adalah alat untuk mengekang wanita. Kalau tidak salah seperti itu. Tidak hanya itu beberapa adegan seperti saat Sulastri bertemu dengan musa. Ada dialog yanhg menarik seperti dibawah ini
“Saya seorang perempuan, ya Musa.”
“Perempuan atau laki diwajibkan mengubah nasibnya sendiri.”
Sebuah kutipan yang menarik. Berdasarkan kutipan diatas dapat disimpulkan sebenarnya perempuan dapat menjadi diri mereka sendiri. Perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk bekerja. Namun seringkali perempuan sendiri tidak sadar bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan nasib mereka sendiri. Dalam kutipan tersebut sosok Musa adalah orang yang menyadari betul bahwa laki-laki dan perempuan ialah hakikatnya sama untuk menentukan nasibnya sendiri. Perempuan dapat bebas dan tidak bergantung pada laki-laki.
Adapun juga dalam cerpen tersebut menceritakan perempuan mengalami bentuk kekerasan. Ada beberapa kekerasan yang dialami oleh Sulastri. Kekerasan tersebut ialah kekerasan secara fisik. Kekerasan fisik sendiri yang dialami ialah ketika Sulastri saat tertangkap oleh Firaun dan rambutnya ditarik hingga jebol. Hal tersebut menunjukan bahwa perempuan seringkali mengalami bentuk kekerasan fisik. Tidak hanya dalam cerpen tersebut, di kehidupan nyata sendiri banya sekali perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dari laki-laki. lihat saja di Indonesia banyak sekali kekerasan yang dialami oleh perempuan. Mulai dari KDRT dan sebagainya. Maka dari itu para aktivis menekankan agar RUU PKS untuk segera disahkan.
Dalam cerpen berjudul sulastri dan empat lelaki ini, sangat jelas digambarkan ekonomi yang dialami oleh sulastri sangatlah jauh dari kata sempurna. Memang benar, di dunia ini tidak ada yang sempurna karena, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tetapi, ekonomi sulastri ini sangat tragis sekali. Dan budaya di negara sulastri sangat kental sekali, kentalnya melebihi susu kental manis. Hal ini terlihat dari masih adanya peraturan bahwa budak harus patuh kepada perintah tuannya. Saat sulastri ditinggalkan oleh suaminya, ia pun dikejar-kejar oleh firaun, karena firaun meminta ia untuk mematuhi perintahnya sebagai tuan. Sulastri pun tidak menggubris perintah firaun tersebut, akhirnya sulastri pun berlari untuk menjauh dari firaun, tetapi firaun pun tak menyerah dan terus mengejar sulastri. Namun, saat diperjalanan sulastri pun bertemu dengan sosok yang ia panggil musa, dan musa pun memberikan bantuan kepada sulastri agar terhindar dari firaun. Bantuan tersebut berupa sebuah tongkat dan tongkat tersebut dapat membuat firaun musnah.
Jika dikaitkan dengan kehidupan nyata, tentunya ini tidak logis. Karena, di tahun 2021 ini sudah termasuk dalam era modern dan teknologi semakin berkembang sangat pesat. Jadi, hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia-manusia jaman sekarang. Jika ada seseorang akan dibunuh oleh penjahat, maka sesorang tersebut akan berlari ke kantor polisi untuk meminta perlindungan kepada polisi, agar terhindar dari penjahat tersebut. Jika, seseorang tersebut berada di kantor polisi maka, tidak akan dibunuh oleh penjahat. Karena, penjahatnya pun tidak berani menginjakkan kakinya di kantor polisi, hal tersebut sama saja dengan ia menyerahkan diri ke kandang harimau.
Itu di kehidupan nyata benar-benar logis sekali yang dilakukan berbanding terbalik dengan yang dilakukan oleh sulastri dalam cerpen tersebut. Terkait dengan religi dalam cerpen tersebut, sangat jelas bahwa semua manusia menyembah berhala dan matahari. Mereka tidak menyembah tuhan yang telah menciptakkan ia di dunia ini. Dari segi religi saja sudah salah, maka terlihat jelas bahwa kehidupan mereka sangatlah rumit. Mereka tidak menyembah tuhan melainkan yang mereka sembah adalah berhala.
Suami sulastri pun juga menyembah berhala, maka kehidupannya pun menjadi tersesat. Sama saja seperti ada jalan menuju surga tetapi ia lebih memilih jalan menuju neraka. Terlihat bahwa kehidupan, sikap dari suami sulastri sangatlah buruk. Jika, dikaitkan dengan kehidupan nyata hal ini masih banyak dilakukan oleh beberapa manusia di dunia ini. Walaupun zaman sudah modern, tetapi masih saja ada manusia yang menyembah seperti itu. Misalnya, bertapa di gua, laut, bahkan berguru dengan orang pintar (Dukun) untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Bahkan, bisa juga untuk memusnahkan manusia yang ia benci. Dengan cara pergi ke dukun untuk mengirim santet kepada lawan. Hal ini masih ada di Indonesia. Yang mereka lakukan tersebut sangatlah hal yang merugikan, karena hidup di dunia ini hanya satu kali, maka berbuatlah sebaik mungkin. Bahwa kehidupan yang abadi adalah di alam akhirat.
Amanat yang dapat diambil oleh pembaca cerpen berjudul sulastri dan empat lelaki adalah;
a. Bahwa kita sebagai manusia harus sadar mengenai hal buruk dan hal baik
b. Belajarlah untuk ikhlas dalam membantu orang yang sedang mengalami kesusahan.
c. Jadilah pemimpin yang adil untuk rakyatnya.
d. Jangan pernah mengikuti ajakan setan ( Menyembah berhala, dan lain-lain).
Komentar
Posting Komentar