Kumpulan Cerpen Karya M. Shoim Anwar, uas.
Beberapa cerpen karya M. Shoim Anwar, M. Shoim Anwar adalah sastrawan sekaligus dosen di Universitas PGRI Adibuana Surabaya terutama pada program studi Bahasa Indonesia. Disini saya akan mengkritik beberapa karya beliau yaitu:
1. Sorot Mata Syaila
2. Sepatu Jinjit Aryani
3. Bambe Perempuan Berselendang Baby Blue
4. Tahi Lalat
5. Jangan ke Istana Anakku
Yang Pertama, cerpen Sorot Mata Syaila menceritakan tokoh aku yang pergi ke Arab dengan alasan beribadah. Padahal sebenarnya, tokoh aku ke Arab untuk menghindar dari hukuman yang menjeratnya. Di tanah air, tokoh aku dianggap sebagai buronan. Tokoh aku mempercayakan kasusnya itu kepada pengacaranya. Dalam perjalanan di dalam pesawat, tokoh aku bertemu dengan seorang perempuan Arab bernama Syaila. Lantas mereka berdua berkenalan. Namun, Syaila kemudian tertidur menyender di bahu tokoh aku hingga orang-orang yang berada di sekitar mereka memandanginya. Ketika pesawat mendarat, Syaila terbangun dan mereka berdua pun turun. Syaila berada jauh di depan tokoh aku hingga Syaila tiba-tiba menghilang dari pandangan tokoh aku. Dalam lamunan, tokoh aku teringat nasib kedua istrinya dan keempat anaknya di tanah air.
Kedua, pada cerpen Sepatu Jinjit Aryanti yang mengisahkan tokoh aku yang sedang menyembunyikan Aryanti, saksi kunci dari tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang penting. Tanpa disadari dan tanpa diketahui, sebenarnya peristiwa tersebut juga masih terjadi pada kehidupan saat ini. Untuk menghilangkan atau menyembunyikan barang bukti dan menghindar dari jeratan hukum, segala cara pasti rela dilakukan. Salah satunya, seperti yang dilakukan orang penting tersebut. Peristiwa ini mengingatkan pada kasus penghilangan barang bukti kasus pelarian Djoko S Tjandra yang melibatkan Brigjen Prasetjo. Pada kasus tersebut Brigjen Prasetjo diduga membakar surat yang telah digunakan dalam perjalanan oleh Djoko S Tjandra.
Pada cerpen yang berjudul Sepatu Jinjit Aryanti, pembaca seakan dibuat penasaran karena pada bagian akhir cerita, penulis memberikan pertanyaan tentang kelanjutan hubungan tokoh aku dan Aryanti bersama bukti kejahatan yang tersembunyi. Kemudian, pada cerpen yang berjudul Sorot Mata Syaila dibagian akhir cerita, rasa penasaran muncul akibat diceritakannya Syaila tiba-tiba menghilang dan tokoh aku kemudian mengingat nasib kedua istrinya dan keempat anaknya di Tanah Air. Rasa penasaran yang ditimbulkan setelah membaca kedua cerpen ini, ditampilkan oleh penulis agar pembaca semakin tertarik, lalu mulai mengikuti dan membaca semua karya dari penulis itu sendiri
Ketiga, Adapun dalam cerpen yang berjudul “ Bambi Dan Perempuan Berselendang Baby Blue” memiliki kesamaan dalam persoalan yang akan dikaji, yakni mengenai relativisme kebenaran. Sebagaimana diilustrasikan bahwa Bambi adalah hakim yang disuap Anik agar memenangkan dalam sidang perkara perdata yang diajukan oleh Anik dengan dorongan dari Bambi. Dengan demikian akan diperkuat melalui kutipan sebagai berikut:
“Aku ingin bicara,” kata saya di mulut toilet.
“Bicara apa?” Bambi mengarahkan pandangan ke muka saya.
“Putusanmu. Mengapa aku kau kalahkan?”
“Aku sudah mengusahakan agar kau yang menang di pengadilan, tapi tak ada dissenting opinion.”
“Bagaimana ada, wong hakim tunggal, cuma kamu saja!”
“Sudah saya mintakan pendapat di luar sidang.”
“Yang mimpin sidang kan kamu. Dengan hakim tunggal mestinya kau bisa putuskan sesuai janjimu!”
Bambi tampak sangat tidak nyaman. Wajahnya memerah, dia lihat ke segala arah. Sengaja saya menghadang langkahnya agar tidak menghindar. Saya pun sengaja mengeraskan suara agar didengar banyak orang.
“Pengacara tergugat pintar. Dia bisa menggugurkan tuntutan jaksa.”
“Tapi mengapa dulu kamu mendorong-dorong aku agar menggugat perkara itu. Kamu panas-panasi aku. kamu menjanjikan akan memenangkan aku. Terus untuk apa kamu minta uang segitu banyak yang katany auntuk minta tolong pada anggota majelis lainnya? Kau bagikan pada siapa saja uang itu? Atau kau nikmati sendiri?”
“Jangan bicara seperti itu. Kamu bisa dikenakan pasa perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik.”
“Aku tidak bodoh. Saat penyerahan uang itu di rumah, aku sudah pasang CCTV agar bisa merekam semuanya. Sudah telanjur basah.”
Bambi sontak terperangan lagi, wajahnya warna bunga waribang. Dia berusaha lepas dari blockade. Saya menghalanginya dengan merentangkan tangan.
“Kamu bisa banding kalau tidak puas,” katanya kemudian.
“Itu rusan nanti!”
“Masih ada waktu tiga hari,” Bambi mengacungkan jarinya.
“Di pengadilan tinggi yang ngurusi sudah beda. Omongnya saja bisa memenangkan kasus. Mana buktinya? Gombal!”
(…)
Barangkali saja banyak yang simpat mendengar kasus saya. Begitu membuka pintu toilet, Devi sudah menunggu saya di ruang khusus wanita itu. Ternyata Devira tahu sepak terjang Bambi. Mereka meman tinggal di kawasan yang sama. Bambi ternyata suka membakar-bakar orang agar berperkara di pengadilan, terutama yang terkait perkara perdata. Mereka yang posisinya kuat dan dinilai akan menang didekati oleh Bambi, dirayu dan dimenangkan di pengadilan. Tentu saja, kata Devira, tidak ada yang gratis. Yang dimintai uang itulah yang dimenangkan.
Dari kutipan di atas tertera bahwa Bambi mengambil keputusan yang benar baginya meskipun itu merugikan orang lain. Di satu sisi, Anik juga menyalakan keputusan yang diambil oleh Bambi karena ia sudah berjanji akan memenangkan sidang tersebut. Ketika ditinjau dari segi relativisme kebenaran, Bambi melakukan ha yang benar menurutnya, sehingga ia melepaskan janji yang sudah dibuat dengan Anik. Presepsi Anik, keputusan yang diambil Bambi salah karena tidak memenangkan sidang perdata itu untuknya. Dengan begitu setiap keputusan memiliki kebenarannya masing-masing, dengan memertimbangkan risiko yang akan diambil. Dengan demikian tidak ada kebenaran yang mutlak.
Keempat, Dalam cerpen yang berjudul “Tahi Lalat’ kita akan diusingkan oleh berbagai isu yang belum jelas arahnya, dengan fokus relativisme kebenaran akan mengkaji beberapa kutipan yang menjadi poin utama dalam cerpen tersebut. Sebagai berikut:
Awas, ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa!” kata Bakrul memulai pembicaraan sambil mendekatkan telunjuknya ke mulut.
“Di sebelah mana?” aku mengorek.
“Di sebelah kiri, agak ke samping,” jawab Bakrul.
“Besar?”
“Katanya sebesar biji randu.”
Mungkin karena keberadaannya sudah lebih jelas, akhirnya orang-orang saling memberi kode ketika berpapasan. Bila mereka sedang bergerombol, dan salah satu sudah memberi kode, yang lain mengacungkan jempolnya sebagai tanda mengerti. Bagi yang kurang yakin, pertanyaan akan langsung diteriakkan saat aku lewat.
Pada kutipan diatas diilustrasikan bahwa rasa penasaran pada tokoh Aku memengaruhi kebenaran yang ada, dan juga kalimat “Katanya sebesar biji randu” memiliki kerancuan dalam berbagai prespektif. Dengan kata lain kebenaran tersebut masih dipertanyakan, sehingga tokoh aku masih penasaran akan keberadaan tahi lalat tersebut. Ketika ditinjau dari relativisme kebenaran, maka kebenaran tidak ada yang mutlak dan simpang siur dengan keberadaan tahi lalat tersebut tidak bisa dibuktikan secara empiris, karena prespektif setiap orang akan memengaruhi kebenaran yang ada.
Yang kelima, Kelima, cerpen Jangan ke Istana Anakku menceritakan kehidupan tokoh aku bersama istri (Trihayu) dan anaknya (Dewi) yang tingggal di dekat istana. Ketiganya harus terpisah karena kebijakan istana. Tokoh aku dan Trihayu ditangkap oleh prajurit istana, ketika Trihayu sedang mengandung Dewi. Tokoh aku kemudian dijadikan penjaga istana, sedangkan Trihayu dijadikan seorang penari oleh raja. Setelah Dewi lahir, Dewi dititipkan ke keonakan tokoh aku. Pada suatu kesempatan tokoh aku bertemu dengan Dewi. Dewi mengatakan bahwa dirinya ingin sekali bertemu dengan ibunya. Namun, tokoh aku tidak memperbolehkannya karena keadaan istana tidak baik untuk Dewi. Pada suatu ketika, nampak seorang perempuan dibawa masuk ke dalam istana. Tokoh aku nampak terkejut karena perempuan tersebut adalah anaknya. Tokoh aku tidak terima dengan semua kebijakan istana yang telah memisahkan keluarga mereka. Kebijakan istana dianggap semena-mena dan semaunya sendiri. Namun, tokoh aku dan keluarganya tidak bisa berbuat apa-apa.
Pada cerpen yang berjudul Tahi Lalat, Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue, dan Jangan ke Istana Anakku. Dalam sebuah seni maupun karya sastra meski terdapat sebuah persamaan kisah, nuasan, problematic maupun amanat yang ada. Oleh, karena perlu di analisis agar didapatkan hasil yang jelas dan glambyar dari sebuah karya tersebut. Pada cerpen-cerpen tersebut menceritakan sebuah problematic kehidupan yang dimana, dalam kehidupan tersebut di selimuti prahara.
Dalam penyampaian sudut pandang, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama serba tahu pada kelima judul cerpen tersebut. Tokoh aku disini sangat berperan penting dalam kelima cerpen tersebut. Namun, pada cerpen Tahi Lalat, tokoh aku hanya berperan sebagai tokoh yang bercerita dan tidak ikut mengalami kejadian yang ada di dalam cerita, bukan tokoh aku yang menjadi pemeran utama seperti pada cerpen Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, dan Jangan ke Istana, Anakku. Pemeran utama yang sebenarnya diceritakan pada cerpen Tahi Lalat adalah Pak Lurah.
Topik yang dibicarakan pada kelima cerpen tersebut juga sama yaitu membahas tentang politik. Namun, juga diselingi oleh kisah cinta didalamnya. Pada cerpen yang berjudul Sorot Mata Syaila terjadi kisah cinta antara tokoh aku dan Syaila yang pada akhirnya berakhir dengan tidak jelas, karena Syaila tiba-tiba menghilang dan tokoh aku mengingat kedua istrinya dan keempat anaknya. Pada cerpen Tahi Lalat terdapat kisah cinta segitiga yang terjadi antara Pak Lurah, istri muda Pak Lurah, dan bos proyek perumahan. Lalu, pada cerpen Sepatu Jinjit Aryanti menceritakan kisah cinta antara tokoh aku dan Aryanti yang sedang bersembunyi dari kerjaran pencari berita karena Aryanti adalah saksi utama kasus besar. Lalu, pada cerpen Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue terdapat kisah cinta antara Bambi dan Miske yang keduanya bekerja sama mempermainkan pengadilan. Pada cerpen yang kelima yaitu cerpen Jangan ke Istana, Anakku terdapat kisah cinta sebuah keluarga kecil yaitu tokoh aku, Dewi, dan Trihayu (Istri tokoh aku) yang terpisah akibat kebijakan dari istana.
Amanat yang dapat di petik dari cerpen-cerpen tersebut yaitu sebuah gambaran bahwa Dalam mempertahankan mengenai hal duniawi pertahankan dengan cara yang sehat dan fair play tidak dengn segala cara hingga merapas hak dan martabat orang lain demi kepuasan nafsu seata. Selain itu dalam memilih peminpin pilihlah dengan tepat tanpa melihat dari harta hingga dapat menyensarakan kita yang memilih, karena apa yang kita pilih menentukan nasib desa 5 tahun ke depan. Bagi pemimpin kalau sudah terpilih lakasanakan amanah tersebut dengan keihklasan serta istiqomah biar jabatan yang diamanahkan menjadi berkah, tidak hanya berkah bagi diri sendiri melainkan bagi seluruh masyarakat. Dalam pencapaian sebuah pangkat kalau tidak benar dalam mendapatkannya akan terbawa arus hingga lupa dengan apa sumpah yang telah diucapkan, kita juga sebagai masyarakat pemimpin juga manusia yang punya rasa lalai seharusnya kita sebagai masyarat harus bijak dalam menilai pemimpin tidak hanya bisa menyalakan kebijakan pemimpin serta tidak membicrakan keburukan ke semua orang. Hal yang terpenting dalam pemerintahan harus ada kejujuran agar tidak ada keglambyaran yang dilacak oleh masyrakat umum hingga menimbulkan fitnah. Karena apa dibawah pemimpin yang baik negara yang bobrok akan dapat tertahta. Kapan sistem dan propaganda itu berakhir, kita tidak pernah mengetahuinya yang jelas disaat nyawa masih di kandung badan serta nafsu-nafsu yang sulit dikendalikan maka di situ roh rahwana, roh sengkuni masih menghiasi dunia.
Komentar
Posting Komentar